Berita tentang PPKM


PPKM DARURAT, PASAR TRADISIONAL SEPI PEMBELI


Boyolali – Pedagang di pasar tradisional kabupaten Boyolali mulai keluhkan sepinya pembeli karena PPKM darurat yang dilakukan di Boyolali guna mencegah menyebarnya virus Covid-19, mengingat belakangan ini kasus positif di Boyolali melonjak tinggi.

Setelah sepekan dari diberlakukannya PPKM darurat,pergerakan masyarakat di pasar tradisional menurun karena adanya pembatasan mobilitas dari penerapan PPKM darurat sampai bulan Juli tanggal 20 nanti. Pedagang pasar mulai keluhkan pendapatan mereka yang menjadi turun.

“ Makin kesini kunjungan masyarakat semakin menurun dan ada juga pedagang yang memilih menutup kiosnya, apalagi saat hari sabtu dan minggu sudah beberapa kali bahkan sebelum PPKM darurat ini kami diwajibkan tutup jam 08.00 WIB.” Terang R (45) salah satu warga desa Sruwoh yang berjualan di Pasar tradisional. (

Masyarakat sendiri juga mulai takut dan selalu waspada karena di Boyolali memang kasus positifnya berada di posisi tertinggi se Jawa Tengah. Masyarakat terlihat mulai tertib menerapkan protokol kesehatan karena sebelumnya tak banyak juga yang masih mengabaikan protokol kesehatan. Di desa Sruwoh sudah ada dua orang meninggal karena kasus positif covid-19. Hal itu membuat masyarakat semakin takut untuk berada dikeramaian. 

“Hari Sabtu dan Minggu biasanya PPKM diberlakukan dengan menutup semua took kecuali Apotek, dan toko kecil yang ada di desa. Dari yang Saya lihat juga penduduk sangat mentaati peraturan terlihat dari saat saya lewat untuk beli obat semua toko tutup termasuk semua alfamar, dan indomart”. Jelas Bahrul (23) warga desa Sruwoh.

Masyarakat terutama pedagang berharap penerapan PPKM darurat sampai 20 Juli 2021 berhasil menekan laju penyebaran covid-19, sehingga tidak ada lagi perpanjangan setelah periode ini.
Dari keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 875 Tahun 2021 tentang Penerapan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat Corona Virus Disease 2019, dijelaskan kalau pasar tradisional dibatasi sampai dengan pukul 13.00 WIB dengan kapasitas pengunjung 50%.

Menurut R (45) berkurangnya jam operasi pasar ini sangat berdampak dalam menurunnya pengunjung pasar yang biasanya cukup ramai pada sore hari. Meskipun tetap paling ramai di pagi hari. Jelasnya.

Menurut salah satu pedagang Agung (bukan nama sebenarnya) omset penjualan sayurnya hari ini tidak sampai 50% dari hasil penjualannya sebelum PPKM darurat ini. 

“Iya, hanya ratusan ribu saja, padahal biasanya kalau rame bisa dua kali lipat dari itu, apalagi hari minggu kemarin, baru jam 7 saja sudah diminta untuk tutup toko”. Jelasnya.

“Kalau seperti ini terus bisa-bisa saya rugi karena sayur yang tidak habis ini tidak mungkin awet berhari-hari, ,mau tidak mau harus dijual sedikit lebih murah. Itupun dengan di jual keliling ke desa-desa. Tapi yam au bagaimana lagi ini demi kebaikan bersama”. Lanjutnya 

Tidak hanya pedagang sembako dan sayur yang tutup tetapi pedagang makanan, toko plastic, toko snack, toko elektronik, hingga bengkel terpantau tutup dan sebagian hanya buka setengah pintu tokonya. 

Namun, terlihat beberapa pedagang kaki lima atau sering disebut “wedangan” yang masih buka di malam hari dan ramai pengunjung anak-anak muda yang “ngopi-ngopi” hingga larut malam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Analisis Berita